Wajarnews.com – Dalam upaya memperkokoh wawasan kebangsaan di tengah dinamika sosial dan ancaman kebencanaan, Anggota MPR RI, Dr. H. Dadang M. Naser, S.H., S.I.P., M.I.Pol, menggelar Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada Rabu (24/12/2025).
Kegiatan yang berlangsung di Saung Makan TNT, Desa Pasir Halang ini menjadi ruang refleksi bagi masyarakat untuk menanamkan kembali nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai pedoman bernegara.
Etika Politik dan Semangat Negarawan
Dalam orasinya, Dadang M. Naser menyoroti pentingnya perubahan paradigma dalam berpolitik. Ia menekankan bahwa perbedaan adalah kekuatan, bukan alasan untuk memicu perpecahan. Menurutnya, setiap elemen bangsa, khususnya para kader partai, harus memiliki porsi jiwa kenegaraaan yang lebih besar.
“Dalam politik kebangsaan hari ini, yang dibutuhkan adalah sikap negarawan. Meski seseorang berasal dari partai politik, 80 persen harus menjadi negarawan, baru 20 persen membawa misi partainya,” ujar Dadang.
Ia juga membandingkan perjalanan Indonesia dengan Korea Selatan. Ia menyebutkan bahwa kunci kemajuan Korea Selatan adalah konsistensi dalam membangun karakter bangsa. Indonesia sebenarnya telah memiliki modal sosial yang kuat lewat nilai luhur seperti Sabilulungan, namun sayangnya sering kali tergerus oleh konflik di media sosial.
Isu lingkungan dan pengelolaan kekayaan alam juga menjadi poin krusial yang disampaikan. Dadang menyoroti banyaknya bencana alam di wilayah Jawa Barat, termasuk Bandung Barat, yang dipicu oleh kebijakan alih fungsi lahan yang keliru di daerah pegunungan.
“Hutan harus dikuasai negara dan dikelola untuk kemakmuran rakyat secara berkeadilan, bukan diserahkan serampangan. Hutan harus dijaga bersama karena kebijakan yang salah hanya akan memicu kerusakan lingkungan dan bencana,” tegasnya.
Terkait sistem ekonomi, Dadang mengajak masyarakat untuk kembali ke amanat Pasal 33 UUD 1945. Ia mendorong penguatan koperasi sebagai “sokoguru” ekonomi rakyat yang mandiri dan memiliki unit usaha nyata, bukan sekadar organisasi formalitas.
Menutup pemaparannya, Dadang mengulas makna Bhinneka Tunggal Ika dalam konteks keberagaman agama. Ia mengingatkan bahwa toleransi yang sehat adalah saling menghormati ritual ibadah masing-masing tanpa harus mencampuradukkan keyakinan.
“Hormati ibadah masing-masing. Toleransi itu bukan ikut-ikutan ibadah, tapi saling menghormati dan menjaga kerukunan,” tambahnya.
Melalui sosialisasi ini, diharapkan nilai-nilai Empat Pilar dapat diimplementasikan secara nyata mulai dari tingkat desa hingga nasional guna meminimalisir konflik sosial dan memperkuat ketahanan bangsa dalam menghadapi tantangan masa depan.





