WajarNews.com – Kepala BNNK Bandung Barat, Agus Widodo, S.Si., SH., M.A.P., menyampaikan dalam jumpa press di ruang rapat Bakesbangpol Kabupaten Bandung Barat bahwa kasus penyalahgunaan dan peredaran narkoba di wilayahnya mengalami lonjakan drastis sebesar 57% pada tahun 2025, dari 107 kasus menjadi 168 kasus.
” Data tren kasus menunjukkan perkembangan yang mengkhawatirkan: tahun 2022-2023 naik sekitar 20%, 2023-2024 hanya naik kecil sekitar 1,9%, namun lonjakan terjadi pada periode 2024-2025,” jelasnya, (30/12/2025).
Sebaran kasus tertinggi berada di Kecamatan Lembang dengan 36 kasus, diikuti Ngamprah (22 kasus), Padalarang (18 kasus), dan Cihampelas (13 kasus). Perbedaan jumlah kasus dan orang yang terlibat terjadi karena kasus dihitung berdasarkan Tempat Kejadian Perkara (TKP), sedangkan pelaku berdasarkan alamat KTP.
“Jenis barang yang paling banyak disalahgunakan adalah sabu (33,6%) dan obat keras terbatas seperti Tramadol dan Hexymer (sekitar 32%) yang populer di kalangan anak-anak. Selain itu, Benzo (17%), Tembakau Sintetis (Sinte) (16,8%) yang banyak digunakan remaja, dan psikotropika (1,4%) juga terdeteksi. Sebanyak 2,1% pelaku adalah perempuan,” tutur Agus Widodo.
Profil pelaku menunjukkan 50,3% berada di kelompok usia remaja (12-25 tahun) yang mencakup pelajar dan mahasiswa, sedangkan 46,1% adalah dewasa usia produktif (25-45 tahun). Berdasarkan pendidikan terakhir, sebagian besar berasal dari tingkat SMP (34%), diikuti SMA/SMK (total sekitar 50%), serta sebagian kecil dari perguruan tinggi dan tingkat SD.

Dalam penanganan kasus tahun 2025, BNNK Bandung Barat mencatat 26 kasus rehabilitasi rawat jalan, 47 kasus rujukan rehabilitasi, dan 95 kasus yang masuk ke tahapan tindakan hukum. Sebanyak 48 klien juga dirujuk ke RS Jiwa atau RSJ Provinsi Jawa Barat.
“Untuk menekan peredaran narkoba, BNNK Bandung Barat telah menjalankan berbagai program pencegahan seperti BNN Goes to School/Campus, Integrasi Kurikulum Anti Narkoba (IKAN), Program Ananda, dan bimbingan teknis bagi keluarga. Kolaborasi juga dilakukan dengan berbagai stakeholder termasuk pemerintah daerah, TNI/Polri, dinas terkait, dan sektor swasta,” imbuhnya.
Pada 10 Desember 2025, BNNK juga meluncurkan program inovasi P4GN SK-SK (Satu Kecamatan Satu Koordinator) yang bertujuan mengoptimalkan penggerakan di tingkat kecamatan untuk mengafirmasi pembentukan Desa BERSINAR (Bersih Narkoba) di seluruh 165 desa dan 16 kecamatan. Pengukuran indeks menunjukkan Kabupaten Bandung Barat berada pada kategori “Sangat Mandiri” dengan skor IKP 3,58 dan “Tanggap” dengan skor 2,83.
“Laporan ini bukan sekadar menyampaikan capaian kinerja, melainkan untuk melihat eksistensi, positioning, serta tantangan yang harus dihadapi bersama di masa depan,” tandasnya. (*) Icha





